K A Y L A (PKKMB FKES)

PKKMB DAY 3

Selasa 3 September 2025

NAMA : KAYLA FATKHA TAUSYAH 

PRODI : D-IV ANALIS KESEHATAN 

FAKULTAS : FKES

RESUME PEMATERI (1)

OLEH: IBU CATUR WULANDARI,S.S.T,M.Gizi

TEMA : PERAN MAHASISWA KESEHATAN DALAM PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Mahasiswa kesehatan memiliki peran krusial dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan dua pilar utama Tridharma Perguruan Tinggi. Melalui partisipasi aktif dalam kedua bidang ini, mereka tidak hanya mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat.

A. ​Peran Mahasiswa dalam Penelitian

​Penelitian merupakan fondasi untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan praktik klinis. Mahasiswa kesehatan bisa berperan dalam penelitian melalui beberapa cara yaitu,

  • Asisten Peneliti: Bekerja sama dengan dosen atau peneliti senior, mahasiswa bisa terlibat dalam pengumpulan data, analisis statistik, dan penulisan laporan. Ini memberikan pengalaman praktis tentang metodologi penelitian.
  • ​Penelitian Mandiri: Mahasiswa dapat mengambil inisiatif untuk melakukan penelitian sederhana, seperti penelitian studi kasus atau survei tentang isu kesehatan tertentu di lingkungan kampus atau masyarakat sekitar.
  • ​Publikasi Ilmiah: Hasil penelitian yang berkualitas dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.  Mahasiswa yang berpartisipasi dalam publikasi mendapatkan pemahaman mendalam tentang standar ilmiah dan etika publikasi.
  • ​Mencari Solusi Inovatif: Penelitian memungkinkan mahasiswa untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang belum terpecahkan dan mengembangkan solusi inovatif, baik itu dalam bentuk teknologi baru, metode pengobatan, atau pendekatan promosi kesehatan.

B. ​Peran Mahasiswa dalam Pengabdian kepada Masyarakat

​Pengabdian kepada masyarakat adalah cara mahasiswa menerapkan ilmu mereka untuk memberikan dampak nyata dan positif. Beberapa perannya antara lain,

  • ​Edukasi Kesehatan: Mahasiswa bisa menyelenggarakan kampanye kesehatan, seminar, atau penyuluhan tentang berbagai topik, seperti pentingnya vaksinasi, gizi seimbang, atau bahaya merokok. Mereka berperan sebagai agen perubahan yang menyebarkan informasi yang akurat dan mudah dipahami.
  • ​Pelayanan Kesehatan Gratis: Dalam kolaborasi dengan puskesmas atau lembaga nirlaba, mahasiswa dapat membantu menyelenggarakan bakti sosial atau posyandu untuk memberikan pemeriksaan kesehatan dasar, seperti pengukuran tekanan darah, gula darah, atau konsultasi ringan.
  • ​Pemberdayaan Masyarakat: Mahasiswa tidak hanya memberikan layanan, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola kesehatan mereka sendiri. Contohnya, mereka dapat melatih kader kesehatan atau kelompok masyarakat untuk melakukan manajemen sampah atau program kebersihan lingkungan secara mandiri.
  • ​Advokasi Kebijakan: Berbekal data dari penelitian, mahasiswa dapat melakukan advokasi untuk mendorong kebijakan publik yang lebih baik di bidang kesehatan, seperti peraturan tentang sanitasi yang lebih ketat atau akses yang lebih mudah ke layanan kesehatan bagi kelompok rentan.

​Melalui kedua peran ini, mahasiswa kesehatan tumbuh menjadi profesional yang kompeten dan berempati, siap menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks di masa depan.

RESUME PEMATERI (2)

OLEH: IBU ATIK QURROTA A'YUNIN AL ISYROFI S.KIM.,M.KES

TEMA : FROM ORGANIZATION TO LEADERSHIP : PERSONAL BRANDING FOR THE NEXT GENERATION

Topik "From Organization to Leadership: Personal Branding for the Next Generation" membahas transisi penting dalam karier, yaitu dari sekadar menjadi bagian dari sebuah organisasi (sebagai karyawan atau anggota tim) menjadi seorang pemimpin yang diakui. Fokus utamanya adalah membangun dan mengelola merek pribadi (personal branding) sebagai alat strategis untuk mencapai tujuan ini.

A. Mengapa Merek Pribadi Penting?

Merek pribadi adalah persepsi atau reputasi yang dimiliki orang lain tentang diri Anda. Di era digital saat ini, hal ini lebih dari sekadar nama dan gelar Anda; ia mencakup nilai-nilai, keahlian, dan kontribusi unik yang Anda tawarkan. Bagi generasi mendatang, personal branding menjadi sangat krusial karena beberapa alasan:

  • Nilai Inti (Core Values): Tentukan apa yang paling penting bagi Anda. Apakah itu integritas, inovasi, atau kolaborasi? Nilai-nilai ini akan menjadi fondasi dari merek Anda.
  • Keahlian Unik (Unique Skills): Kenali keahlian dan kekuatan yang membedakan Anda. Ini bukan hanya keahlian teknis (hard skills) tapi juga keahlian lunak (soft skills) seperti komunikasi, empati, dan pemecahan masalah.
  • Tujuan dan Visi: Tentukan apa yang ingin Anda capai. Visi ini akan memberikan arah yang jelas bagi merek pribadi Anda. Apakah Anda ingin dikenal sebagai pemimpin yang inovatif atau pemimpin yang berfokus pada pengembangan tim?

B. Membangun Narasi (Crafting Your Narrative)

Setelah mengidentifikasi jati diri, Anda perlu merangkai cerita (narrative) yang kohesif. Cerita ini harus menjelaskan siapa Anda, apa yang Anda lakukan, dan mengapa itu penting.

  • Konten Online: Aktiflah di platform profesional seperti LinkedIn. Bagikan wawasan, tulis artikel, atau berpartisipasi dalam diskusi yang relevan dengan bidang Anda. Konten ini menunjukkan keahlian Anda dan membangun kredibilitas.
  • Jejaring (Networking): Bangun hubungan yang otentik dan saling menguntungkan. Hadiri acara industri, terhubung dengan para pemimpin di bidang Anda, dan tawarkan bantuan atau wawasan.
  • Tunjukkan Kepemimpinan (Demonstrate Leadership): Jangan menunggu untuk diberi peran kepemimpinan. Ambil inisiatif dalam proyek, menjadi mentor bagi rekan kerja, atau sukarela untuk memimpin sebuah tim. Tindakan ini menunjukkan bahwa Anda memiliki potensi kepemimpinan bahkan sebelum Anda memiliki gelar resminya.
  • Tantangan dan Tips untuk Generasi Berikutnya: Generasi mendatang menghadapi tantangan unik dalam membangun merek pribadi, terutama karena batas antara kehidupan pribadi dan profesional semakin kabur di media sosial.

RESUME PEMATERI (3)

OLEH: KAKAK ERICCHA DARING IRBAH,S.Gz

TEMA : FUTURE READY MINDSET: JADI MAHASISWA KESEHATAN YANG KUAT NGGAK GAMPANG KAGET SAMA DUNIA

"Future Ready Mindset" adalah pola pikir atau sikap proaktif yang mempersiapkan mahasiswa kesehatan untuk menghadapi dinamika dan tantangan yang tidak terduga di dunia kerja. Tujuannya adalah untuk tidak hanya memiliki pengetahuan klinis yang kuat, tetapi juga memiliki daya tahan, adaptabilitas, dan kesiapan mental yang memungkinkan mereka untuk berhasil dan tidak mudah "kaget" saat lulus nanti.

Dunia kesehatan terus berubah, didorong oleh teknologi, data, dan perubahan demografi. Kurikulum tradisional mungkin tidak sepenuhnya bisa menutupi semua tantangan ini. Oleh karena itu, memiliki pola pikir ini sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara teori di kampus dan praktik di lapangan.

A. Pilar-Pilar Utama 'Future Ready Mindset'

Materi ini biasanya terbagi menjadi beberapa pilar utama yang harus dikuasai oleh mahasiswa kesehatan:

Pilar Adaptabilitas & Fleksibilitas. Dunia kesehatan penuh dengan ketidakpastian. Hari ini Anda mungkin merawat pasien dengan kondisi umum, besok bisa jadi ada kasus langka yang memerlukan pendekatan yang benar-benar baru.

  • Pentingnya: Mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi (misalnya, penggunaan rekam medis elektronik), protokol baru, atau bahkan pandemi global.
  • Cara Mengembangkan: Belajar Mandiri: Jangan hanya bergantung pada materi kuliah. Cari tahu tentang tren terbaru, studi kasus, dan teknologi kesehatan.
  • Terbuka pada Perubahan: Jangan takut mencoba metode atau alat baru. Anggap setiap perubahan sebagai kesempatan untuk belajar.
  • Simulasi dan Studi Kasus: Ikut serta dalam simulasi atau diskusi studi kasus di luar kelas. Ini melatih Anda untuk berpikir cepat dan menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak terduga.

Pilar Keterampilan Kritis (Critical Skills). Lulusan kesehatan masa depan tidak hanya butuh hard skills (pengetahuan medis), tetapi juga soft skills yang kuat.

  • Pentingnya: Pasien semakin kompleks, dan tim kerja semakin beragam. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah adalah kunci.
  • Komunikasi Efektif: Latih cara berkomunikasi dengan pasien dari berbagai latar belakang, serta dengan rekan sejawat dan atasan. Komunikasi yang jelas bisa menyelamatkan nyawa.
  • Kerja Sama Tim: Ikut dalam proyek kelompok atau organisasi mahasiswa. Ini mengajarkan Anda cara berinteraksi dan berkontribusi dalam tim multidisiplin.
  • Empati dan Kecerdasan Emosional: Latih diri untuk memahami dan merespons emosi orang lain—baik pasien maupun kolega. Empati adalah fondasi dari pelayanan kesehatan yang baik.

Pilar Pembelajaran Seumur Hidup (Lifelong Learning). Lulus dari kampus bukanlah akhir dari pembelajaran. Pengetahuan medis terus berkembang.

  • Pentingnya: Untuk tetap relevan dan kompeten di bidangnya. Apa yang Anda pelajari hari ini bisa jadi sudah usang dalam 5-10 tahun. Cara Mengembangkan
  • Keingintahuan yang Tinggi: Jadilah pribadi yang selalu ingin tahu dan bertanya. Jangan ragu mencari referensi dan mengikuti penelitian terbaru.
  • Partisipasi Aktif: Hadiri seminar, webinar, atau konferensi profesional. Ini juga bisa menjadi ajang networking yang penting.
  • Membangun Jaringan Profesional: Jalin hubungan dengan para profesional di bidang Anda. Mereka adalah sumber informasi dan mentor yang berharga.

Pilar Ketahanan Mental (Resilience). Profesi kesehatan adalah salah satu yang paling menantang secara mental dan emosional.

  • Pentingnya: Mampu bangkit kembali setelah menghadapi kegagalan, kehilangan pasien, atau kelelahan (burnout). Cara Mengembangkan:
  • Manajemen Stres: Kenali gejala stres pada diri sendiri dan pelajari cara mengelolanya, misalnya dengan hobi, olahraga, atau meditasi.
  • Mencari Dukungan: Jangan ragu untuk berbicara dengan mentor, teman, atau konselor jika Anda merasa kewalahan.
  • Membuat Batasan (Boundaries): Pelajari kapan harus istirahat. Kesehatan mental Anda sama pentingnya dengan kesehatan pasien Anda.
Akun pendukung:






Comments

Popular posts from this blog

K A Y L A (PRA PKKMB)

K A Y L A (PKKMB UNIV)